PRINGSEWU – Mahasiswa Program Studi Pendidikan Profesi Bidan, Fakultas Kesehatan, Universitas Aisyah Pringsewu (UAP), melaksanakan praktik komunitas sebagai bagian dari proses pembelajaran profesi pada Tahun Akademik 2026/2027. Kegiatan praktik dilaksanakan pada 4–8 Agustus 2026 dan diikuti oleh 15 mahasiswa.
Dari jumlah tersebut, sebanyak delapan mahasiswa melaksanakan praktik komunitas di Phatumthani, Thailand, sedangkan tujuh mahasiswa lainnya menjalani praktik di Imopuro, Metro. Kegiatan ini menjadi bagian dari pembelajaran lapangan yang memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengintegrasikan pengetahuan, keterampilan, dan sikap profesional dalam memberikan asuhan kebidanan pada tingkat individu, keluarga, dan komunitas.

Ketua Program Studi Pendidikan Profesi Bidan UAP, Rika Agustina, S.ST., Bdn., M.Keb., mengatakan praktik komunitas merupakan bagian penting dalam pembentukan kompetensi profesional mahasiswa bidan. Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa tidak hanya menerapkan teori yang diperoleh selama proses pembelajaran, tetapi juga belajar memahami kondisi, karakteristik, serta kebutuhan kesehatan masyarakat secara langsung.
“Praktik komunitas memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengintegrasikan pengetahuan, keterampilan, dan sikap profesional dalam memberikan asuhan kebidanan kepada individu, keluarga, dan masyarakat. Mahasiswa juga belajar melakukan pengkajian, mengidentifikasi masalah, menyusun intervensi, serta mengevaluasi pelayanan yang diberikan,” ujar Rika.
Selama praktik, mahasiswa melakukan pengkajian kondisi wilayah dan komunitas, menganalisis situasi sosial dan gender, mengidentifikasi permasalahan kesehatan, menyusun diagnosis, merencanakan dan mengimplementasikan pelayanan kebidanan bersama masyarakat, serta melakukan monitoring dan evaluasi terhadap kegiatan yang telah dilaksanakan.
Menurut Rika, pengalaman langsung di lapangan menjadi penting karena kompetensi seorang bidan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan klinis, tetapi juga mencakup kemampuan berkomunikasi, melakukan promosi kesehatan, memberdayakan masyarakat, serta membangun kolaborasi dengan berbagai pihak.
“Mahasiswa tidak hanya dituntut memiliki kemampuan klinis, tetapi juga memiliki kepekaan terhadap persoalan kesehatan di masyarakat. Karena itu, praktik komunitas diarahkan pada edukasi, promosi kesehatan, pemberdayaan perempuan dan keluarga, serta kolaborasi dengan masyarakat,” katanya.
Dalam pelaksanaannya, mahasiswa dibagi ke dalam beberapa kelompok dan memperoleh pendampingan dari pembimbing lahan praktik serta pembimbing akademik. Setiap kelompok menjalankan kegiatan sesuai dengan jadwal dan wahana praktik yang telah ditetapkan.
Selain memberikan asuhan kebidanan, mahasiswa juga melaksanakan kegiatan penyuluhan, edukasi, dan pelatihan terkait asuhan kebidanan komplementer kepada keluarga, kader, rekan sejawat, maupun masyarakat. Kegiatan tersebut menjadi sarana bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan komunikasi, konseling, serta promosi kesehatan berbasis kebutuhan komunitas.
Mahasiswa juga didorong untuk melakukan pemberdayaan perempuan, keluarga, dan masyarakat melalui inovasi berupa produk berbasis kearifan lokal. Rangkaian kegiatan tersebut dilengkapi dengan telaah jurnal dan critical appraisal yang dipresentasikan sebagai bagian dari proses evaluasi pembelajaran pada akhir periode praktik.
Praktik komunitas diarahkan untuk mengembangkan kemampuan mahasiswa dalam memberikan asuhan kebidanan pada seluruh siklus kehidupan perempuan dan anak secara holistik, komprehensif, dan berkesinambungan. Kompetensi yang dikembangkan meliputi komunikasi, promosi kesehatan dan konseling, manajemen kebidanan komunitas, advokasi, kolaborasi interprofesional, pemberdayaan perempuan, serta kemampuan mengambil keputusan berdasarkan pemikiran logis, kritis, dan inovatif.
Dalam proses pembelajaran di komunitas, mahasiswa mendapatkan pengalaman memberikan asuhan pada berbagai tahapan kehidupan, mulai dari masa prakonsepsi, kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir atau neonatus, bayi dan balita, kesehatan reproduksi perempuan, hingga keluarga berencana pada tingkat keluarga dan komunitas.
Rika menambahkan bahwa pendekatan tersebut sejalan dengan arah pengembangan Program Studi Pendidikan Profesi Bidan UAP yang menekankan keunggulan asuhan kebidanan komplementer, penguasaan teknologi digital, serta penerapan nilai akhlakul karimah.
“Harapannya, pengalaman yang diperoleh selama praktik dapat menjadi bekal bagi mahasiswa ketika memasuki dunia profesi. Mereka diharapkan mampu menjadi bidan yang kompeten, profesional, komunikatif, dan memiliki kepedulian terhadap kesehatan perempuan, ibu, anak, keluarga, dan masyarakat,” tutur Rika.
Program praktik komunitas tersebut juga menjadi bagian dari upaya membentuk lulusan yang mampu menjalankan berbagai peran profesi, mulai dari pemberi asuhan (care provider), komunikator yang efektif, pemimpin komunitas, pengambil keputusan, hingga peneliti dalam bidang pelayanan kebidanan.
Menurut Rika, pelaksanaan praktik di dua lokasi dengan karakteristik lingkungan yang berbeda juga memberikan pengalaman pembelajaran yang beragam bagi mahasiswa. Pengalaman tersebut diharapkan dapat memperluas wawasan mahasiswa dalam memahami pendekatan pelayanan kebidanan berbasis komunitas serta meningkatkan kemampuan beradaptasi terhadap kondisi dan kebutuhan masyarakat.
“Kami berharap kegiatan ini tidak hanya menjadi bagian dari pemenuhan kurikulum, tetapi benar-benar memberikan pengalaman bermakna bagi mahasiswa sekaligus memberikan kontribusi positif bagi masyarakat,” pungkasnya.
Pelaksanaan praktik komunitas tersebut sejalan dengan visi Program Studi Pendidikan Profesi Bidan UAP dalam menghasilkan lulusan bidan profesional dengan keunggulan asuhan kebidanan komplementer, penguasaan teknologi digital, dan landasan nilai akhlakul karimah.
Melalui kegiatan ini, UAP terus mendorong pendidikan profesi yang menghubungkan pembelajaran akademik dengan pengalaman nyata di masyarakat. Praktik komunitas diharapkan dapat memperkuat kompetensi profesional mahasiswa, meningkatkan kemampuan beradaptasi terhadap kebutuhan masyarakat, serta menumbuhkan kepedulian terhadap peningkatan kesehatan perempuan, ibu, anak, keluarga, dan komunitas. (*na)

